
Kamis, 29 Januari 2004
Manado Grand Palace
mmm………………
that’s my wedding day… (seharusnya)
mestinya hari itu aku menjadi seorang yang sangat berbahagia.
mestinya saat itu aku sudah melepas lajangku dengan pria istimewa yang mencuri hatiku.
mestinya sekarang aku hidup bersama keluargaku sendiri, punya suami dan anak-anak yang kukasihi.
mestinya detik ini hidupku berubah.
hari ini aku ngerayain ultah pernikahanku yang ke-4.
Tapi semuanya sudah direncanakan oleh Tuhan.
Aku hanya bisa sampai merencanakannya, Tuhan yang menentukan yang terbaik bagiku.
Dulu, aku mesti butuh waktu berbulan-bulan untuk melupakan kejadian menyakitkan itu, bahkan aku mesti pergi untuk tidak mengingatnya lagi.
Sekarang, setelah aku diperhadapkan dengan situasi seperti ini lagi, aku cuma butuh waktu 3 hari untuk meratap dan mengurung diri di kamar, 2 hari untuk pemulihan, dan 2 hari untuk melupakan pria itu. Lelaki yang pernah hadir di hidupku dan akhirnya pergi dengan wanita lain pilihannya tanpa penjelasan bahkan meminta restu dariku.
Menyakitkan memang, tapi aku sudah mulai terbiasa menghadapi situasi seperti ini,...
Sekedar mengingat kembali,
Waktu itu.... seminggu sebelum pernikahanku, aku pergi mengecek gaun warna gading model kemben dengan potongan selutut didepan dan sedikit terbuka dipunggung dan panjang belakangnya, karena seminggu sebelumnya bajunya terlalu besar buatku pakai, sudah beres. Begitu juga dengan foto pre-weddingku yang sudah selesai dan kartu-kartu undangan yang siap dijalankan. Gedung tempat resepsi bahkan persiapan untuk resepsinya sendiri benar-benar sudah matang. Semua surat-surat sudah lengkap dan tinggal menunggu saat yang ditentukan.
Entah mengapa, semuanya terjadi begitu cepat dan ........
Pernikahanku batal, dan semuanya hanya berakhir dengan air mata.
Waktu itu aku terpukul dan sama sekali tak bisa menerima kenyataan, membiarkan diri sendiri terkurung dalam kesedihan yang mendalam dan menyiksa diriku sendiri ternyata tak mampu merubah kenyataan.
Doa papa dan mamaku yang mampu merubah suasana hatiku. Siang dan malam tak henti-hentinya mereka berdoa buatku, sampai aku akhirnya menyadari kenyataan yang ada dan berusaha untuk menerima semuanya dan menjalani kehidupan seperti biasanya lagi.
Kami memang berbeda kultur dan keyakinan. Mungkin itu yang tak bisa menyatukan kami. Sampai sekarang, aku masih punya komunikasi dengannya, walau sebatas teman biasa saja.
Berusaha untuk menjadi kuat dan tegar dalam segala hal itu tekadku.
Aku perempuan,
Dan aku tak mau tersiksa dengan perasaan-perasaan murahan yang menyayat batin.
Karena aku,
Perempuan yang luar biasa tangguh menghadapi berbagai masalah.
Dan karena aku,
Adalah perempuan yang dikasihi Allah Bapa di surga.
Yang sudah membentengi aku dari berbagai masalah hidup.
Apapun itu, aku tak akan pernah takut menghadapinya
Karena Tuhan ada dipihakku.
Sekarang, mengingat ini semua hanya membuatku tersenyum, karena ternyata aku mampu melewatinya.
Pernikahan,..... aku percaya suatu saat aku pasti akan melewatinya....
Dan buatku sekarang, itu bukan lagi suatu kewajiban, sesuatu yang harus dilakukan.
Punya seorang lelaki istimewa dalam hidup itu mungkin impian setiap wanita didunia. Tapi buatku, itu tidaklah terlalu penting karena tanpa kucari Tuhan sudah menyediakannya bagiku. Seorang yang terbaik dari semuanya.

seperti biasa, jam 12 siang aku duduk istirahat mendengarkan radio favoritku.
dan siaran yang kutunggu-tunggu tiba juga.
Bagaikan duduk di kafe sambil minum capucino, demikian kafe etos dihidangkan untuk smart listener. aku sampai hafal kata pembukanya...wakakakk....... :)
kali ini kafe etos bercerita tentang etos kehormatan.
kisah etos yang gurih dan renyah yang menuntun inspirasi dan pencerahan tentang fenomena etos dalam berbagai seting kehidupan.... ( i like this one )
Gadis Pacenongan
Kisah ini terjadi di jalan pacenongan jakarta, saat beberapa pengurus sebuah yayasan makan malam di warung kaki lima sesudah mengadakan rapat. Begitu duduk mereka langsung diserbu pedagang asongan dan seorang diantara pengasong itu adalah seorang gadis kecil berusia kurang lebih 10 tahun. Ia menjajakan kue. Namun karena sibuk berdiskusi, kehadiran para pedagang asongan ini tidak mereka hiraukan. Saat pesanan tiba para pengasong itupun mundur satu per satu, sebagian mengalihkan dagangannya ke tamu lain sisanya beristirahat dipinggir jalan, namun gadis kecil itu tetap bertahan. Dengan tabah dan sabar dan sorot mata yang membujuk, ia berdiri disamping tamu yang duduk itu.
Tekad gadis ini membuat seorang ibu jatuh iba, ia membuka dompetnya mengeluarkan uang pecahan seribu rupiah dan menyodorkannya kepada si gadis. Namun gadis ini hanya menggelengkan kepalanya. Sang ibu menambahkan seribu rupiah lagi, tapi dia tetap menolaknya. “Barangkali kurang” demikian batin si ibu, ia pun menambah menjadi tiga ribu. Aneh, gadis ini tetap menolak. Sikap gadis ini menarik perhatian semua tamu yang ada dimeja tersebut, lalu seorang bapak berkata dengan nada heran ”Dik, kenapa ditolak?”. Gadis kecil itu berkata ”Kata ibu saya tidak boleh mengemis, saya harus jualan”. Jawaban gadis ini menyentakkan perasaan, mereka takjub dan kagum bagaimana mungkin gadis ini menolak pemberian tiga ribu rupiah yang menurut taksiran jika dia mampu menjual seluruh kuenya untungnya tidak akan sebesar itu demi sebuah prinsip. Para tamu tersentuh dan tiada pilihan lain, merekapun membeli semua kue-kue gadis ini seharga lima belas ribu rupiah. Setelah itu barulah gadis kecil ini tersenyum, mengucapkan terima kasih dan meninggalkan mereka.
Kisah ini bercerita tentang harga diri, mengemis itu tidak haram tetapi sudah tentu pekerjaan tidak terhormat. Ketegaran gadis kecil penjual kue yang tidak mau menerima belas kasihan dan bersikuku menjual dagangannya patutlah dicontoh. Penampilan luar sering menjadi acuan harkat dan martabat seseorang. Semakin keren atau bermerek penampilan seseorang, perhatian semakin tertuju padanya. Mungkin benar, penampilan luar yang mentereng, busana mahal, perhiasan yang mengkilap, kendaraan mewah bisa menjadi tanda bahwa orangnya berasal dari kalangan atas. Namun kalau mentalnya dibedah, mungkin mental pengemis yang akan ditemui. Sebaliknya orang sederhana yang selalu dipersepsi sebagai kelas bawah tetapi bisa jadi kemandirian mereka justru lebih tinggi. Gadis kecil tadi mengajarkan, kehormatan bukanlah apa yang kita tampilkan keluar, namun apa yang kita pancarkan dari dalam. Itulah budi pekerti, ketegaran, keterhormatan.
Dalam bekerja tentung saja keterhormatan, harga diri martabat adalah sangat penting dan itu semua kita wujudkan menjadi karya yang berkualitas yang menonjol yang excellent. Etos kali ini berbicara tentang kehormatan.
Marilah kita menjaga harga diri kita agar tetap tinggi dengan menolak melakukan hal-hal yang hina.
dikutip dari "Kafe Etos" Smart FM Manado
Special thanks for Peter Waworundeng
Negara manakah yang lebih banyak menghasilkan jam. Japan atau Swiss? Jawabannya
Tetapi negeri manakah yang disebut negeri jam? Jawabannya Swiss
Apa perbedaan keduanya?
Sampai awal 70an, jika berbicara tentang jam orang pasti akan langsung teringat swiss, kemudian teknologi baru yang dinamakan quartz ditemukan. Meskipun pertama kali diperkenalkan di swiss, teknologi ini di tolak oleh komunitas industri jam disana. Karena menurut mereka perkakas yang tidak menggunakan per atau gerigi, itu bukanlah jam namanya. Japan tanggap dan langsung mengadopsinya, hasilnya keluarlah berbagai merek jam buatan japan yang akurasinya tidak kalah dengan buatan swiss namun istimewanya harganya jauh lebih murah.
Dalam waktu singkat Japan pun menjelma menjadi negeri produsen jam terbesar didunia. Melihat kejayaan japan, swiss tidak tinggal berdiam diri. Revolusi butuh dalam industri jam terjadi secara besar-besaran. Mereka menyodorkan cara pandang baru dalam industri jam, kalau dahulu jam hanya sekadar perkakas penunjuk waktu, mereka merubah konsepnya menjadi simbol pribadi-pribadi yang sukses. Jam buatan swiss dipandang sebagai lambang kesempurnaan dengan kualitas istimewa, karya seni buatan tangan sang maestro dan hanya orang-orang terbaik dibidangnya yang patut memakainya. Hasilnya industri jam swiss naik lagi keperingkat atas. Rolex misalnya, jika kita mencermati iklannya, selalu menggunakan selebritis dunia yang merupakan juara atau legenda dibidangnya, tampilannya pun khas, selalu ada disampul belakang majalah terkemuka, full color, mewah, eksklusif, kesan yang ingin ditampilkan ialah jika anda memakai jam ini, maka anda akan setara dengan mereka. Dengan kata lain spirit, gengsi dan kelas anda akan terangkat dengan memakai jam tersebut. Perubahan kualitas dan paradigma membuat industri jam swis berjaya kembali.
Satu fenomena khas kehidupan selalu berulang dimana-mana, para juara sekali waktu akan memasuki masa pensiun diri. Ini terjadi pada individu seperti Muhammad Ali, Martina N, Ellyas Pical atau Icuk Sugiarto. Pada tataran korporat misalnya IBM, Kodak, Sony, Indosat ato Indofood, dan negara pun misalnya Romawi, atau Inggris, gejala serupa bisa dijumpai. Cirinya sang juara merasa tidak perlu lagi bekerja keras seperti dahulu, tak perlu lagi belajar atau berlatih mati-matian seperti sedia kala, “kita kan sudah juara, mari bersantai dan menikmati anggur kesuksesan” kira-kira demikian sikap mereka, lanjutannya kewaspadaan semakin rendah, lebih jauh lagi mereka mulai menjadi arogan, menganggap enteng para pesaing dan melecehkan kompetitor, sampai suatu saat mereka pun terkejut, mereka disalip, dikalahkan, atau digusur. Banyak yang digusur selamanya tergusur, mereka bangkrut lalu hilang dari peredaran. Industri jam di swiss tergolong yang beruntung, mereka segera sadar, bertobat dan menata diri kembali, hasilnya mereka mencuat dengan tampilan yang lebih baik, mereka merubah paradigmanya dari industri kronometer menjadi menjadi industri perhiasan. Jadi, marilah bersikap sadar dan waspada, marilah berubah dan memelihara etos kerja adalah kehormatan. Kita harus bekerja tekun penuh keunggulan.
Special thanks for Peter Waworundeng

Seorang dosenku pernah memberitahukan kisah berikut :"
Aku adalah salah satu dari tiga belas anak." Suatu hari saat aku bermain di jalan dikampung halamanku, aku merasa sangat haus dan berlari pulang ke rumah untuk mendapatkan segelas air.
Ayahku baru saja sampai dirumah dari tempat kerjanya untuk makan siang. Ia duduk di meja dapur dengan seorang tetangga. Sebuah pintu memisahkan dapur dari lemari makan dan ayahku tidak tahu aku ada disana.
Tetanggaku itu berkata kepada ayahku, 'Joe, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu sedemikian lama. Kau memiliki tuga belas anak. Siapakah anak yang paling kau kasihi dan menjadi favoritmu di antara ketiga belas anakmu itu?'.
Aku menempelkan kupingku lekat-lekat didinding berharap kalau nama yang terucap adalah aku. 'Mudah saja,' kata ayahku. 'Mary anakku yang berusia duabelas tahun. Ia baru saja memakai kawat gigi dan merasa minder dan malu sehingga ia tidak mau keluar rumah lagi. Oh, tapi kau menanyakan tentang anak yang paling menjadi favoritku. Itu adalah Peter anakku yang berusia dua puluh tiga tahun. Tunangannya baru saja memutuskan pertunangan mereka, dan ia kesepian. Tetapi anak yang paling sungguh-sungguh kukasihi adalah si kecil Michael. Ia benar-benar tidak dapat bekerjasama dan buruk dalam olahraga manapun yang coba ia mainkan. Tetapi tentu permata hatiku adalah Susan. Baru berusia dua puluh empat tahun, tinggal di apartemen sendiri dan memiliki masalah dengan minum-minuman. Aku bersedih dan menangis untuk Susan. Tapi kurasa semua anak...' dan ayahku melanjutkan, menyebutkan setiap nama ketiga belas anaknya."
Sumber : Lion and Lamb, Brennan Manning.
Beberapa waktu yang lalu, keluargaku kedatangan salah satu anggota keluarga yang sudah bertahun-tahun tak pernah kami lihat, seingatku terakhir melihatnya waktu berumur kira-kira 4 bulan, masih bayi dan tak mengerti apa-apa. Dian namanya, lahir tanggal 14 Agustus 16 tahun yang lalu.
Waktu itu, ibunya (tanteku) karena suatu masalah dalam keluarganya membawanya pergi dari rumah ke ambon kerumah sodaranya dan tinggal disana untuk beberapa tahun lamanya dan kembali lagi tanpa membawa Dian dengan alasan tak cukup uang untuk biaya perjalanan kembali pulang ketika omku menanyakannya. Untuk sekian waktu yang panjang om berusaha untuk mengajaknya pulang, tapi sodara tante tidak pernah mengijinkan dan bahkan setiap
Dan saatnya, ketika Dian datang untuk merayakan natal bersama dengan keluarga kami disini telah tiba, ayahnya dengan air mata berlinang-linang karena bahagia pergi menjemputnya. Tapi apa yang terjadi,.. tidak seperti yang diharapkan. Saat om hendak memeluknya, dia menjauh bahkan tak mau disentuh sedikitpun oleh om yang adalah ayah kandungnya sendiri, omku itu memahami mungkin karena kelelahannya dalam perjalanan (karena begitu tiba dirumahpun, Dian langsung terlelap).
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari terberat om dan tanteku. Dian yang datang dengan sodaranya tante itu, tak pernah mau bicara dengan om, hanya dengan tante saja, bahkan saat keluargaku dan semua keluarga kami disini pergi untuk melihatnya, Dian memilih tidur dan enggan bicara dengan kami yang adalah om, tante dan sepupu kandung sendiri. Papaku sendiri bahkan merasakan keanehan dari anak itu dan menyampaikannya padaku. “Anak yang aneh, bukankah mestinya dia bahagia hadir ditengah keluarganya sendiri?” tapi memang begitulah yang terjadi. Akupun tak menyangka keadaan yang demikian, saat kulihat dia pertama kali (karena waktu Dian datang aku sedang berlibur keluar
Entah apa yang merasukinya ketika suatu saat ayahnya menegur untuk kebaikannya, dia balik membalas dengan perkataan yang menyakitkan sekali “Kau tak usah memikirkan diriku, karena kau bukanlah papaku, kau meninggalkanku begitu lama dan tak pernah peduli denganku, jadi kau tak usah menegurku. Aku tak perlu teguranmu”. Omku terdiam dan meneteskan kembali airmatanya mendengar kata-kata itu, kata-kata yang tak pernah diharapkannya keluar dari mulut anak yang sangat diharapkannya pulang kerumah setelah bertahun-tahun tak pernah dilihatnya.
Aku memang tak terlalu dekat dengan omku itu, tapi ketika dia diperhadapkan dengan situasi seperti itu, aku tak akan pernah tinggal diam. Dengan kesal dan hati yang marah aku membentaknya didepan semuanya. Aku mengingatkannya bahwa selama ini, keluarganya selalu mengurusnya, mengirimkan segala keperluannya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, selalu menelponnya tapi selalu dikatakan sudah tidur atau lagi pergi, rajin mengirimkannya pakaian-pakaian dan berbagai keperluannya, dan menjelaskan kembali kalau keluarganya tak pernah meninggalkannya tapi sodara-sodaranya dari mamanya sendiri yang tak pernah mengijinkan dia pulang kesini. Tak menyangka sebesar ini anak ini membenci ayahnya sendiri, aku mengatakan kepadanya kalau dia itu anak durhaka terhadap orang tua. Sepupuku yang lain menenangkanku karena ternyata tanpa kusadari aku hampir memukulinya. Walaupun aku dalam keadaan menangis karena sakit hati. Dua minggu kemudian Dian pulang kembali ke ambon tanpa pamitan kepada omku.
Sekarang Dian pergi dan meninggalkan sejuta luka di hati om, aku bisa memahaminya perasaan om sekarang dan hal ini yang membuatku dekat dengannya. Dia bercerita kepadaku kalau sekarang dia tak pernah menganggap kalau dia pernah punya anak perempuan lagi sambil memelukku dan menangis.
Dua hari yang lalu, aku pergi mencari buku bacaan ke toko buku, saat sedang mencari buku, mataku menangkap sebuah buku yang berjudul “Hanya Untuk Para Ayah”. Sebenarnya aku tak berniat membelinya, tapi ketika kubaca isinya, aku menangis dan teringat papaku dirumah dan terngiang kembali Dian yang sudah menyakiti hati ayahnya. Aku membelinya dan memberikannya pada papaku. Papaku heran dan berkata, “Ultahnya
Keesokan harinya, seperti biasa papa membangunkanku untuk mengingatkan aku pergi kerja, dan ada yang aneh. Papa membuatkan kami dirumah sarapan pagi, dia membuatnya dengan tangannya sendiri. Bahkan menawarkanku untuk mengantarkanku pergi ke tempat kerja. Saat diperjalanan papa diam saja, tapi setelah aku hendak turun karena sudah sampai ditempat kerjaku, papa memelukku dan berkata “Nak, aku sayang padamu” dengan bahagia akupun membalasnya “Tanpa kau katakanpun aku tau papa, kalau papa menyayangiku. Akupun sayang padamu dan tak pernah terlintas dipikiranku untuk menyakitimu pa”. Disudut matanya kulihat airmata yang nyaris jatuh. Papaku tersenyum dan berkata dia akan menjemputku kembali sepulang kerja.
Papa adalah orang yang paling dekat denganku dan aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangi mama dan adikku. Semoga aku menjadi anak yang baik dan tak pernah menyakiti hati papaku, itu harapan dan doaku.
Kata-kata yang menguatkan dari ayah dan ibu adalah seperti lampu yang menyala. Berbicara sepatah kata yang meneguhkan disaat yang tepat dalam hidup seorang anak, seperti menerangi seluruh ruangan yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan.
-Garry Smalley
Benih mengeluh dan mulai merasa tersiksa dengan keadaannya. “Ah, kenapa Tuhan menempatkan aku ditempat seperti ini? Mestinya aku tumbuh dipadang subur dan hijau bukan diantara semak belukar seperti ini. Apa salahku Tuhan, sehingga kau memberikan tempat seperti ini?”
Semak belukar rupanya memperhatikan si benih dan mulai berkata “Hai benih kecil, berhentilah mengeluh, bukankah itu sudah kodratmu untuk tumbuh bersama kami, akupun sebenarnya tak pernah menginginkanmu untuk berbagi tempat denganku.”
Si benih berkata “Maaf, kalau aku sudah tumbuh ditempatmu, tapi ini bukan keinginanku, dan bukan salahku juga kenapa aku tumbuh ditempat ini, bagaimana bisa aku bisa besar kalau kau dan batu-batu ini menghimpitku?”
Si Batu berkata “Bisakah kau diam benih kecil, aku bosan terus menerus mendengar keluhanmu setiap saat, kalau kau tidak berhenti mengoceh aku akan menimpamu sampai mati.”
“ Baiklah, aku akan berhenti mengoceh jika itu mau kalian, tapi tolonglah, untuk tidak menghimpitku selalu, aku kesakitan” benih itu pun berhenti berkata-kata.
Benih kecil itupun diam dan sesekali meringis menahan perihnya duri yang selalu menusuknya berhari-hari, dan batu-batu yang selalu dengan sengaja menghimpitnya hingga batangnya nyaris patah.
Suatu hari tak jauh dari situ ada seorang petani yang sedang berjalan pulang menuju rumahnya, saat melewati pinggiran sawah, petani beristirahat dan tanpa sengaja melihat benih kecil yang indah didekatnya. “ Wah indahnya, kasihan sekali kau, tumbuh di tempat seperti ini, sudah tanahnya kering, terhimpit oleh batu, hampir patah pula karena kena tajamnya semak belukar liar ini. Lebih baik kau kubawa pulang saja”
Sang petanipun dengan hati-hati mengambil benih itu dan dibawahnya pulang kerumah.
Akhirnya benih itu tumbuh subur menjadi pohon yang besar, begitu kuat karena akarnya merambat jauh kedalam tanah, tumbuh subur karena hidup ditepi aliran sungai.
Suatu saat, kelaparan besar menimpa dusun kecil dimana petani itu tinggal, petani itupun kesusahan karena sawahnya tak menghasilkan dan tak ada makanan dirumah.
Si benih yang sudah menjadi pohon besar itupun berkata dalam hati, “Kasihan petani ini, aku harus membantunya kali ini, karena dia sudah membantuku untuk tumbuh subur seperti ini, aku harus berbuah, berbuah yang lebat supaya aku bisa mencukupkan kehidupannya setiap hari, dia sudah bekerja untukku maka aku harus menghasilkan buah untuknya”. Maka si pohon itupun mulai berbuah, satu, dua,.. sepuluh,… dua puluh,… tidak terhitung lagi banyaknya.
Suatu pagi saat petani itu melihat pohon itu, alangkah terkejutnya dia melihat buah yang begitu banyak tumbuh dari pohon itu, “Terima kasih Tuhan, sudah memberiku makanan hari ini”. Petani itu tak henti-hentinya mengucap syukur atas hal itu, dipetiknya buah itu dan dibagikannya kepada orang rumah dan tetangga-tetangganya.
dedicate for step and echa
