Benih dan Petani...  

Posted by: miss hang in


Ada sebuah benih tumbuh ditepi jalan, terhimpit diantara batu dan semak-semak duri yang tajam.
Benih mengeluh dan mulai merasa tersiksa dengan keadaannya. “Ah, kenapa Tuhan menempatkan aku ditempat seperti ini? Mestinya aku tumbuh dipadang subur dan hijau bukan diantara semak belukar seperti ini. Apa salahku Tuhan, sehingga kau memberikan tempat seperti ini?”


Semak belukar rupanya memperhatikan si benih dan mulai berkata “Hai benih kecil, berhentilah mengeluh, bukankah itu sudah kodratmu untuk tumbuh bersama kami, akupun sebenarnya tak pernah menginginkanmu untuk berbagi tempat denganku.”
Si benih berkata “Maaf, kalau aku sudah tumbuh ditempatmu, tapi ini bukan keinginanku, dan bukan salahku juga kenapa aku tumbuh ditempat ini, bagaimana bisa aku bisa besar kalau kau dan batu-batu ini menghimpitku?”
Si Batu berkata “Bisakah kau diam benih kecil, aku bosan terus menerus mendengar keluhanmu setiap saat, kalau kau tidak berhenti mengoceh aku akan menimpamu sampai mati.”


“ Baiklah, aku akan berhenti mengoceh jika itu mau kalian, tapi tolonglah, untuk tidak menghimpitku selalu, aku kesakitan” benih itu pun berhenti berkata-kata.
Benih kecil itupun diam dan sesekali meringis menahan perihnya duri yang selalu menusuknya berhari-hari, dan batu-batu yang selalu dengan sengaja menghimpitnya hingga batangnya nyaris patah.


Suatu hari tak jauh dari situ ada seorang petani yang sedang berjalan pulang menuju rumahnya, saat melewati pinggiran sawah, petani beristirahat dan tanpa sengaja melihat benih kecil yang indah didekatnya. “ Wah indahnya, kasihan sekali kau, tumbuh di tempat seperti ini, sudah tanahnya kering, terhimpit oleh batu, hampir patah pula karena kena tajamnya semak belukar liar ini. Lebih baik kau kubawa pulang saja”


Sang petanipun dengan hati-hati mengambil benih itu dan dibawahnya pulang kerumah.
Dirumah, si petani mulai menanam kembali benih indah itu dibelakang rumahnya disamping sungai kecil yang jernih. “Semoga kau tumbuh dengan subur, disinilah tempatmu bukan ditepi jalan” begitu kata si petani sambil menyiram benih yang baru ditanamnya itu. “Tuhan terima kasih sudah memberikan tempat yang layak buatku, terima kasih petani, suatu saat aku akan membalas kebaikanmu”, benih kecil itupun tersenyum.
Setiap hari sebelum dan sesudah pulang dari sawah, petani itu pasti menyempatkan diri untuk membersihkan dan menyiram benih itu.


Akhirnya benih itu tumbuh subur menjadi pohon yang besar, begitu kuat karena akarnya merambat jauh kedalam tanah, tumbuh subur karena hidup ditepi aliran sungai.

Suatu saat, kelaparan besar menimpa dusun kecil dimana petani itu tinggal, petani itupun kesusahan karena sawahnya tak menghasilkan dan tak ada makanan dirumah.

Si benih yang sudah menjadi pohon besar itupun berkata dalam hati, “Kasihan petani ini, aku harus membantunya kali ini, karena dia sudah membantuku untuk tumbuh subur seperti ini, aku harus berbuah, berbuah yang lebat supaya aku bisa mencukupkan kehidupannya setiap hari, dia sudah bekerja untukku maka aku harus menghasilkan buah untuknya”. Maka si pohon itupun mulai berbuah, satu, dua,.. sepuluh,… dua puluh,… tidak terhitung lagi banyaknya.


Suatu pagi saat petani itu melihat pohon itu, alangkah terkejutnya dia melihat buah yang begitu banyak tumbuh dari pohon itu, “Terima kasih Tuhan, sudah memberiku makanan hari ini”. Petani itu tak henti-hentinya mengucap syukur atas hal itu, dipetiknya buah itu dan dibagikannya kepada orang rumah dan tetangga-tetangganya.

Pohon itu tersenyum bahagia, karena dia mampu membalas kebaikan petani yang selalu merawatnya. Pohon itu tumbuh semakin besar dan subur, berbuah semakin lebat, dan selalu menjadi tempat yang sejuk untuk berteduh bagi orang-orang.


dedicate for step and echa

This entry was posted on 5:19:00 AM and is filed under . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

1 soul

Makasih imey...

it's trully inspiring me..:)

Posting Komentar