Made in Japan vs Made in Swiss  

Posted by: miss hang in ,

Negara manakah yang lebih banyak menghasilkan jam. Japan atau Swiss? Jawabannya Japan

Tetapi negeri manakah yang disebut negeri jam? Jawabannya Swiss

Apa perbedaan keduanya?

Sampai awal 70an, jika berbicara tentang jam orang pasti akan langsung teringat swiss, kemudian teknologi baru yang dinamakan quartz ditemukan. Meskipun pertama kali diperkenalkan di swiss, teknologi ini di tolak oleh komunitas industri jam disana. Karena menurut mereka perkakas yang tidak menggunakan per atau gerigi, itu bukanlah jam namanya. Japan tanggap dan langsung mengadopsinya, hasilnya keluarlah berbagai merek jam buatan japan yang akurasinya tidak kalah dengan buatan swiss namun istimewanya harganya jauh lebih murah.

Dalam waktu singkat Japan pun menjelma menjadi negeri produsen jam terbesar didunia. Melihat kejayaan japan, swiss tidak tinggal berdiam diri. Revolusi butuh dalam industri jam terjadi secara besar-besaran. Mereka menyodorkan cara pandang baru dalam industri jam, kalau dahulu jam hanya sekadar perkakas penunjuk waktu, mereka merubah konsepnya menjadi simbol pribadi-pribadi yang sukses. Jam buatan swiss dipandang sebagai lambang kesempurnaan dengan kualitas istimewa, karya seni buatan tangan sang maestro dan hanya orang-orang terbaik dibidangnya yang patut memakainya. Hasilnya industri jam swiss naik lagi keperingkat atas. Rolex misalnya, jika kita mencermati iklannya, selalu menggunakan selebritis dunia yang merupakan juara atau legenda dibidangnya, tampilannya pun khas, selalu ada disampul belakang majalah terkemuka, full color, mewah, eksklusif, kesan yang ingin ditampilkan ialah jika anda memakai jam ini, maka anda akan setara dengan mereka. Dengan kata lain spirit, gengsi dan kelas anda akan terangkat dengan memakai jam tersebut. Perubahan kualitas dan paradigma membuat industri jam swis berjaya kembali.

Satu fenomena khas kehidupan selalu berulang dimana-mana, para juara sekali waktu akan memasuki masa pensiun diri. Ini terjadi pada individu seperti Muhammad Ali, Martina N, Ellyas Pical atau Icuk Sugiarto. Pada tataran korporat misalnya IBM, Kodak, Sony, Indosat ato Indofood, dan negara pun misalnya Romawi, atau Inggris, gejala serupa bisa dijumpai. Cirinya sang juara merasa tidak perlu lagi bekerja keras seperti dahulu, tak perlu lagi belajar atau berlatih mati-matian seperti sedia kala, “kita kan sudah juara, mari bersantai dan menikmati anggur kesuksesan” kira-kira demikian sikap mereka, lanjutannya kewaspadaan semakin rendah, lebih jauh lagi mereka mulai menjadi arogan, menganggap enteng para pesaing dan melecehkan kompetitor, sampai suatu saat mereka pun terkejut, mereka disalip, dikalahkan, atau digusur. Banyak yang digusur selamanya tergusur, mereka bangkrut lalu hilang dari peredaran. Industri jam di swiss tergolong yang beruntung, mereka segera sadar, bertobat dan menata diri kembali, hasilnya mereka mencuat dengan tampilan yang lebih baik, mereka merubah paradigmanya dari industri kronometer menjadi menjadi industri perhiasan. Jadi, marilah bersikap sadar dan waspada, marilah berubah dan memelihara etos kerja adalah kehormatan. Kita harus bekerja tekun penuh keunggulan.


dikutip dari "Kafe Etos" Smart FM Manado
Special thanks for Peter Waworundeng

This entry was posted on 5:51:00 PM and is filed under , . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 soul

Posting Komentar