
seperti biasa, jam 12 siang aku duduk istirahat mendengarkan radio favoritku.
dan siaran yang kutunggu-tunggu tiba juga.
Bagaikan duduk di kafe sambil minum capucino, demikian kafe etos dihidangkan untuk smart listener. aku sampai hafal kata pembukanya...wakakakk....... :)
kali ini kafe etos bercerita tentang etos kehormatan.
kisah etos yang gurih dan renyah yang menuntun inspirasi dan pencerahan tentang fenomena etos dalam berbagai seting kehidupan.... ( i like this one )
Gadis Pacenongan
Kisah ini terjadi di jalan pacenongan jakarta, saat beberapa pengurus sebuah yayasan makan malam di warung kaki lima sesudah mengadakan rapat. Begitu duduk mereka langsung diserbu pedagang asongan dan seorang diantara pengasong itu adalah seorang gadis kecil berusia kurang lebih 10 tahun. Ia menjajakan kue. Namun karena sibuk berdiskusi, kehadiran para pedagang asongan ini tidak mereka hiraukan. Saat pesanan tiba para pengasong itupun mundur satu per satu, sebagian mengalihkan dagangannya ke tamu lain sisanya beristirahat dipinggir jalan, namun gadis kecil itu tetap bertahan. Dengan tabah dan sabar dan sorot mata yang membujuk, ia berdiri disamping tamu yang duduk itu.
Tekad gadis ini membuat seorang ibu jatuh iba, ia membuka dompetnya mengeluarkan uang pecahan seribu rupiah dan menyodorkannya kepada si gadis. Namun gadis ini hanya menggelengkan kepalanya. Sang ibu menambahkan seribu rupiah lagi, tapi dia tetap menolaknya. “Barangkali kurang” demikian batin si ibu, ia pun menambah menjadi tiga ribu. Aneh, gadis ini tetap menolak. Sikap gadis ini menarik perhatian semua tamu yang ada dimeja tersebut, lalu seorang bapak berkata dengan nada heran ”Dik, kenapa ditolak?”. Gadis kecil itu berkata ”Kata ibu saya tidak boleh mengemis, saya harus jualan”. Jawaban gadis ini menyentakkan perasaan, mereka takjub dan kagum bagaimana mungkin gadis ini menolak pemberian tiga ribu rupiah yang menurut taksiran jika dia mampu menjual seluruh kuenya untungnya tidak akan sebesar itu demi sebuah prinsip. Para tamu tersentuh dan tiada pilihan lain, merekapun membeli semua kue-kue gadis ini seharga lima belas ribu rupiah. Setelah itu barulah gadis kecil ini tersenyum, mengucapkan terima kasih dan meninggalkan mereka.
Kisah ini bercerita tentang harga diri, mengemis itu tidak haram tetapi sudah tentu pekerjaan tidak terhormat. Ketegaran gadis kecil penjual kue yang tidak mau menerima belas kasihan dan bersikuku menjual dagangannya patutlah dicontoh. Penampilan luar sering menjadi acuan harkat dan martabat seseorang. Semakin keren atau bermerek penampilan seseorang, perhatian semakin tertuju padanya. Mungkin benar, penampilan luar yang mentereng, busana mahal, perhiasan yang mengkilap, kendaraan mewah bisa menjadi tanda bahwa orangnya berasal dari kalangan atas. Namun kalau mentalnya dibedah, mungkin mental pengemis yang akan ditemui. Sebaliknya orang sederhana yang selalu dipersepsi sebagai kelas bawah tetapi bisa jadi kemandirian mereka justru lebih tinggi. Gadis kecil tadi mengajarkan, kehormatan bukanlah apa yang kita tampilkan keluar, namun apa yang kita pancarkan dari dalam. Itulah budi pekerti, ketegaran, keterhormatan.
Dalam bekerja tentung saja keterhormatan, harga diri martabat adalah sangat penting dan itu semua kita wujudkan menjadi karya yang berkualitas yang menonjol yang excellent. Etos kali ini berbicara tentang kehormatan.
Marilah kita menjaga harga diri kita agar tetap tinggi dengan menolak melakukan hal-hal yang hina.
dikutip dari "Kafe Etos" Smart FM Manado
Special thanks for Peter Waworundeng
This entry was posted
on 4:52:00 AM
and is filed under
Inspirational,
refleksi,
Smart Etos
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.