Beberapa waktu yang lalu, keluargaku kedatangan salah satu anggota keluarga yang sudah bertahun-tahun tak pernah kami lihat, seingatku terakhir melihatnya waktu berumur kira-kira 4 bulan, masih bayi dan tak mengerti apa-apa. Dian namanya, lahir tanggal 14 Agustus 16 tahun yang lalu.
Waktu itu, ibunya (tanteku) karena suatu masalah dalam keluarganya membawanya pergi dari rumah ke ambon kerumah sodaranya dan tinggal disana untuk beberapa tahun lamanya dan kembali lagi tanpa membawa Dian dengan alasan tak cukup uang untuk biaya perjalanan kembali pulang ketika omku menanyakannya. Untuk sekian waktu yang panjang om berusaha untuk mengajaknya pulang, tapi sodara tante tidak pernah mengijinkan dan bahkan setiap surat yang selalu om kirimkan ternyata tak pernah disampaikan kepadanya tetapi mereka selalu berjanji untuk akan membawa Dian pulang kesini.
Dan saatnya, ketika Dian datang untuk merayakan natal bersama dengan keluarga kami disini telah tiba, ayahnya dengan air mata berlinang-linang karena bahagia pergi menjemputnya. Tapi apa yang terjadi,.. tidak seperti yang diharapkan. Saat om hendak memeluknya, dia menjauh bahkan tak mau disentuh sedikitpun oleh om yang adalah ayah kandungnya sendiri, omku itu memahami mungkin karena kelelahannya dalam perjalanan (karena begitu tiba dirumahpun, Dian langsung terlelap).
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari terberat om dan tanteku. Dian yang datang dengan sodaranya tante itu, tak pernah mau bicara dengan om, hanya dengan tante saja, bahkan saat keluargaku dan semua keluarga kami disini pergi untuk melihatnya, Dian memilih tidur dan enggan bicara dengan kami yang adalah om, tante dan sepupu kandung sendiri. Papaku sendiri bahkan merasakan keanehan dari anak itu dan menyampaikannya padaku. “Anak yang aneh, bukankah mestinya dia bahagia hadir ditengah keluarganya sendiri?” tapi memang begitulah yang terjadi. Akupun tak menyangka keadaan yang demikian, saat kulihat dia pertama kali (karena waktu Dian datang aku sedang berlibur keluar kota) aku tak menyapanya, karena kesanku buruk terhadapanya.
Entah apa yang merasukinya ketika suatu saat ayahnya menegur untuk kebaikannya, dia balik membalas dengan perkataan yang menyakitkan sekali “Kau tak usah memikirkan diriku, karena kau bukanlah papaku, kau meninggalkanku begitu lama dan tak pernah peduli denganku, jadi kau tak usah menegurku. Aku tak perlu teguranmu”. Omku terdiam dan meneteskan kembali airmatanya mendengar kata-kata itu, kata-kata yang tak pernah diharapkannya keluar dari mulut anak yang sangat diharapkannya pulang kerumah setelah bertahun-tahun tak pernah dilihatnya.
Aku memang tak terlalu dekat dengan omku itu, tapi ketika dia diperhadapkan dengan situasi seperti itu, aku tak akan pernah tinggal diam. Dengan kesal dan hati yang marah aku membentaknya didepan semuanya. Aku mengingatkannya bahwa selama ini, keluarganya selalu mengurusnya, mengirimkan segala keperluannya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, selalu menelponnya tapi selalu dikatakan sudah tidur atau lagi pergi, rajin mengirimkannya pakaian-pakaian dan berbagai keperluannya, dan menjelaskan kembali kalau keluarganya tak pernah meninggalkannya tapi sodara-sodaranya dari mamanya sendiri yang tak pernah mengijinkan dia pulang kesini. Tak menyangka sebesar ini anak ini membenci ayahnya sendiri, aku mengatakan kepadanya kalau dia itu anak durhaka terhadap orang tua. Sepupuku yang lain menenangkanku karena ternyata tanpa kusadari aku hampir memukulinya. Walaupun aku dalam keadaan menangis karena sakit hati. Dua minggu kemudian Dian pulang kembali ke ambon tanpa pamitan kepada omku.
Sekarang Dian pergi dan meninggalkan sejuta luka di hati om, aku bisa memahaminya perasaan om sekarang dan hal ini yang membuatku dekat dengannya. Dia bercerita kepadaku kalau sekarang dia tak pernah menganggap kalau dia pernah punya anak perempuan lagi sambil memelukku dan menangis.
Dua hari yang lalu, aku pergi mencari buku bacaan ke toko buku, saat sedang mencari buku, mataku menangkap sebuah buku yang berjudul “Hanya Untuk Para Ayah”. Sebenarnya aku tak berniat membelinya, tapi ketika kubaca isinya, aku menangis dan teringat papaku dirumah dan terngiang kembali Dian yang sudah menyakiti hati ayahnya. Aku membelinya dan memberikannya pada papaku. Papaku heran dan berkata, “Ultahnya kan masih jauh nak, knapa kau belikan kado buat papa?” aku cuma tersenyum dan berkata dengan nada canda “Soalnya aku suka lupa ultahmu papa, jadi kubelikan sekarang aja, jangan lupa dibaca yah?”.
Keesokan harinya, seperti biasa papa membangunkanku untuk mengingatkan aku pergi kerja, dan ada yang aneh. Papa membuatkan kami dirumah sarapan pagi, dia membuatnya dengan tangannya sendiri. Bahkan menawarkanku untuk mengantarkanku pergi ke tempat kerja. Saat diperjalanan papa diam saja, tapi setelah aku hendak turun karena sudah sampai ditempat kerjaku, papa memelukku dan berkata “Nak, aku sayang padamu” dengan bahagia akupun membalasnya “Tanpa kau katakanpun aku tau papa, kalau papa menyayangiku. Akupun sayang padamu dan tak pernah terlintas dipikiranku untuk menyakitimu pa”. Disudut matanya kulihat airmata yang nyaris jatuh. Papaku tersenyum dan berkata dia akan menjemputku kembali sepulang kerja.
Papa adalah orang yang paling dekat denganku dan aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangi mama dan adikku. Semoga aku menjadi anak yang baik dan tak pernah menyakiti hati papaku, itu harapan dan doaku.
Kata-kata yang menguatkan dari ayah dan ibu adalah seperti lampu yang menyala. Berbicara sepatah kata yang meneguhkan disaat yang tepat dalam hidup seorang anak, seperti menerangi seluruh ruangan yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan.
-Garry Smalley